Widget edited by super-bee

Senin, 31 Maret 2014

Lirik Lagu STARLIT - Lakukan Untuk Buktikan



Lakukan Untuk Buktikan

Do it yourself
We strike
We fight
Lets Go !!!


Setiap manusia
mempunyai mimpi dan harapan
berjuang tuk meraih nya
menggapai dan wujudkan lah

tak peduli kata mereka
caci maki itu tak bermakna

bungkam dan hiraukan semua (raih dan bukti kan!! 2x)
bungkam dan hiraukan semua (raih dan bukti kan!! 2x)

tak kan pernah menyerah (selama waktu ini belum terhenti)
raih dan buktikan (semua angan dan mimpi kita)
tak kan pernah menyerah (selama waktu ini belum terhenti)
raih dan buktikan semua angan dan mimpi kita

selama darah masih mengalir
selama jantung masih berdetak
selama nafas masih berhembus
kita lakukan untuk buktikan

STARLIT



»»  READMORE...

Minggu, 30 Maret 2014

ANALISIS LIRIK LAGU TERTIKAM DARI BELAKANG " DOWN FOR LIFE "



lirik lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life



Tertikam dari belakang denyut jantung berhenti
terjerumus rangkaian basi yang suci
tertikam…belati yang kau tusuk
definisi…..pengkhianatan
argumenmu…pembelaan diri
persetan senyuman palsu busuk!!!
menangislah….
berlututlah….
mohon ampunan…atas nama dosa
tertikam dari belakang denyut jantung berhenti
terjerumus rangkaian basi yang suci
tertikam…belati yang kau tusuk
definisi…..pengkhianatan
argumenmu…pembelaan diri
persetan senyuman palsu busuk!!!
menangislah….
berlututlah….
mohon ampunan…atas nama dosa
tertikam dari belakang
pengkhianatan dirimu
takkan termaafkan
hanya satu penebusan…mati!!!







Berikut adalah analisis dari lirik lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life

1.      Diksi
Diksi merupakan pilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pendengar. Penulisan kata yang digunakan oleh Down For Life ini  lebih banyak ditekankan pada judul lagu tersebut, karena pendengar dibawa lebih dalam untuk menggali apa maksud yang terkandung dalam lagu ini melalui judul tersebut. Pemilihan kata yang di gunakan dari bait pertama hingga terakhir menggunakan makna konotatif, Pengarang mengajak pendengar untuk berfikir mengenai apa yang sebenarnya disekitar kita , semua itu bias saja berubah , penghianatan ada disekitar kita dan jangan pernah mudah percaya pada siapapun.

2.      Imaji
            Dalam lirik lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life ini menggunakan citraan penglihatan dan citraan penciuman. Terbukti pada pada kata“ argumenmu” dan “menangislah” menggunakan citraan penglihatan. Pada kata “ busuk “ menggunakan citraan penciuman.
3.      gaya bahasa
Walaupun pengertian majas berbeda dengan bahasa, namun majas merupakan bagian dari gaya bahasa. Dalam  lirik lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life menggunakan majas metafora yang berupa perbandingan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat.  Dalam lagu ini juga menggunakan majas hiperbola yang merupakan kiasan yang menyatakan sesuatu secara berlebihan.

Dibuktikan dalam kalimat “ Terjerumus rangkaian basi yang suci “ . pada kalimat tersebut menggunakan majas metafora yang membandingkan antara basi dengan suci.

Dalam  kalimat “ Persetan senyuman palsu busuk “ menggunakan majas hiperbola yang memberi kiasan senyuman secara berlebihan

4.      Kata konkret
Walaupun lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life ini tergolong lagu brutal , namun penulisan liriknya menggunakan kata konkret secara keseluruhan
5.      Tema
            Tema yang diangkat oleh Down For Life pada lagu “Tertikam dari belakang” adalah kritik sosial dan penghianatan. Mengacu pada titik jenuh manusia yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, lirik lagu tertikam dari belakang ini cukup mampu menyuarakan orang-orang yang sudah dikhianati oleh apapun ataupun siapapun. Kata-kata yang bermakna konotatif mampu memberi kritik social pada masyarakat yang selama ini didoktrinasi oleh kepentingan  yang tak bertanggung jawab yang hanya mementingkan nafsu duniawi saja.

6.      Rasa
Didalam lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life mangajak pendengar agar sejenak merenung dan berfikir sebenarnya apa yang ada disekitar kita. Apakah kita hanya bisa percaya begitu ? dan kepercayaan itu akan sirna jika suatu saat apa yang kita percayai berbalik arah dan membunuh kita secara perlahan. Jadi rasa yang ingin di sampaikan pada pendengar agar jangan mudah percaya pada siapapun

7.      Amanat
Didalam lagu “ Tertikam dari belakang“ Down For Life ini banyak amanat yang bisa diambil. Kita sebagai manusia jangan mudah percaya pada bujuk rayu para penghianat.Walaupun sebenarnya penghianat itu ada dalam setiap hati manusia. Jadi memohon ampunlah pada Tuhan Yang Maha Esa agar kita terlepas dari semua penghianatan yang ada di dunia ini.


oleh.Dyan Scream Uchiha


»»  READMORE...

UNDANGAN PERNIKAHAN KEREN ( picture )


»»  READMORE...

ANALISIS KETERJALINAN TEKS DAN KONTEKS


ANALISIS KETERJALINAN TEKS DAN KONTEKS DAN
 INTERTEKSTUALITAS TERHADAP PUISI “SENDIRI” KARYA M. BONIEX NURWEGA DAN PUISI “ALONE” KARYA EDGAR ALLAN POE:
 Sebuah Kajian Sastra Bandingan


Diajukan sebagai tugas mata kuliah Sastra Banding





1.      Dian Sukma Raharja       A310110107

2.      Ima Yustisia Reshi           A310110115

KELAS C



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

A.    Puisi Utuh
1.      Puisi Indonesia
SENDIRI
Ku coba tersenyum dalam tidurku
Tak peduli apapun yang terjadi
Karena harapan, asa, semua kan lebih baik
Saat ku terbangun
Adakah tanya telah terjawab?
Adakah tawa telah menjawab?
Sendiri menuju sunyi
Hingga yang tersisa hanya aku dan bahagia
Ku buka mata dia telah tiba
Membawa pesan di kedua tangannya
Mengajak berlari, menyusuri, jauh ke tempat terindah
Dan tak lagi terbangun
Sendiri menuju sunyi
Hingga yang tersisa hanya aku dan bahagia
Tak pernah beranjak, tak pernah beranjak

M. Boniex Nurwega 

2.      Puisi Barat/Lirik Lagu Barat
Alone
From childhood's hour I have not been
As others were; I have not seen
As others saw; I could not bring
My passions from a common spring.

From the same source I have not taken
My sorrow; I could not awaken
My heart to joy at the same tone;
And all I loved, I loved alone.

Then- in my childhood, in the dawn
Of a most stormy life- was drawn
From every depth of good and ill
The mystery which binds me still:

From the torrent, or the fountain,
From the red cliff of the mountain,
From the sun that round me rolled
In its autumn tint of gold
.

From the lightning in the sky
As it passed me flying by,
From the thunder and the storm,
And the cloud that took the form
(When the rest of Heaven was blue)
Of a demon in my view. 
Edgar Allan Poe


ALONE

Dari jam milik masa kanak dimana aku belum ada
Seperti yang lain: aku belum melihat
Seperti yang orang-orang saksikan; aku tak mampu membawa
kehendak hasratku dari musim semi yang datar ini

Dari  ujung hulu yang sama belum juga aku ambil
Kesedihanku; aku sungguh  tidak mampu membangun
hatiku agar bergembira pada  lirih  bunyi yang sama;
Sebab  dari seluruh yang aku cintai, aku begitu mencintai kesendirian

Kemudian dalam  masa kanakku, di sebuah fajar
Lewat  hidup yang maha membadai— sudah tergambar
Setiap dasar kedalaman dari yang sehat dan yang sakit
Rahasia dimana terus menerus aku terjepit.

Dari seluruh aliran air yang mengucur ataupun yang memancur
Dari jurang-jurang diantara rongga pegunungan
Dari matahari yang rutin mengitari aku  untuk menggulirkan  
aroma cahaya  musim gugurnya yang kekuningan

Dari  kilatan-kilatan di langit
Yang seolah mengajak aku terbang
Dari lenguh guruh maupun  pangkal badai
Dari payung  mendung yang kepadaku nyaris sampai
(ketika surga jadi teramat biru)
Iblis  bermukim di sekujur  pandanganku.
Edgar Allan Poe

B.     Pembahasan
        Keterjalinan teks dan konteks sastra dalam suatu karya sastra tidak dapat dihindarkan. Dengan adanya komunikasi yang serba canggih, peristiwa teks yang satu dapat membonceng teks yang lain hampir selalu ada di mana-mana. Dalam pembahasan ini teks dan konteks yang akan dianalisis adalah karya sastra puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega , di mana pada perbandingannya kedua karya sastra itu memiliki persamaan yakni penggunaan bentuk akulirik pada analisis secara struktural yang sebelumnya telah dibahas.
1.      Keterjalinan teks dan konteks terhadap bahasa puisi
Berdasarkan puisi yang dianalisis secara struktural, puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega, kajian yang kedua yakni melihat keterjalinan teks dan konteks berdasarkan bahasa, bentuk, dan isi puisi.
Puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega dikaji berdasarkan konteks atau suasana yang dialami oleh kedua pengarang ditinjau dari segi bahasa.. Hal yang sangat mempengaruhi pemilihan diksi yang dilakukan oleh pengarang adalah latar belakang kehidupan pengarang, suasana yang bergajolak di hati pengarang serta pengaruh lingkungan. Misalkan puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe, diksi yang dipilih sesuai dengan tema yang diangkat,  dan kata yang dipilih beragam sehingga membuat puisi Nampak indah dan mudah dipahami. hal itu tidak hanya terdapat pada puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega yang sudah cukup baik, meskipun pemilihan katanya kurang beragam tetapi puisi tersebut mampu di pahami oleh pembaca. puisi karya M. Boniex Nurwega banyak yang sudah dijadikan lagu dan pemilihan kata yang dipakai tidak jauh dengan puisi “sendiri” ini seperti “pulang” , “permainan menunggu” hingga “lentera”.
.

Ditinjau dari segi bentuk, puisi” sendiri” karya M. Boniex Nurwega dengan Puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe tersebut sama-sama memiliki ciri khas masing-masing.
.
                        Dari segi bentuk, puisi sendiri” karya M. Boniex Nurwega terdiri dari lima belas baris dan enam bait. Berbeda dengan puisi“alone” karya  Edgar Allan Poe isi  yang terdiri dari duapuluh baris lima bait. Nilai bunyi yang diungkapkan oleh puisi sendiri” karya M. Boniex Nurwega cenderung mengungkap tentang kesedihan dan harapan. Hal itu dapat diliha pada bait
Ku coba tersenyum dalam tidurku
Tak peduli apapun yang terjadi
Karena harapan, asa, semua kan lebih baik
Saat ku terbangun


Keterjalinan teks dan konteks terhadap puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi sendiri” karya M. Boniex Nurwega dikaji berdasarkan isi. Dalam puisi karya M. Boniex Nurwegia seperti yang telah diulas sebelumnya, emosi dan kesedihan yang dikuak memang dapat menyihir minat para pembaca.
2.      Intertekstualitas alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi sendiri” karya M. Boniex Nurwega.
Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsic seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lainnya, di antara teks yang dikaji.
Secara khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang  muncul lebih kemudian. Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk memberikan  makna  secara  lebih  penuh  terhadap karya tersebut. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-5).
Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks lain. Lebih dari itu, teks itu sendiri secara etimologis (textus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai interteks tidak terbatas sebagai persamaan genre, interteks memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram. Hubungan yang dimaksud tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya sebagai pertentangan, baik nsebagai parody maupun negasi (Ratna, 2004: 172-173).
Masalah ada tidaknya hubungan antarteks ada kaitannya dengan niatan pengarang  dan tafsiran pembaca. Dalam kaitan ini Luxemburg dkk (1989:10) mengartikan  intertekstualitas sebagai: kita menulis dan membaca dalam suatu interteks suatu  tradisi budaya, sosial, dan sastra yang tertuang dalam teks-teks. Setiap teks sebagian bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi oleh teks-teks sebelumnya.
Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tulis, ia tidak  mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan  tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumya.
Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpang (menolak, memutarbalikkan esensi) konvensi.  Riffaterre mengatakan  bahwa  karya  sastra selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya, yang secara  konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal  itu, sekali lagi, menunjukkan keterikatan suatu karya dari karya-karya lain yang melatar belakanginya.
Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut  sebagai hipogram. Istilah hipogram, barangkali dapat diindonesiakan menjadi  latar, yaitu dasar, walau mungkin tak tampak secara eksplisit, bagi penulisan karya yang lain wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi, sesuatu  yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks sebelumnya (Teeuw, 1983:65). Dalam istilah lain, penerusan tradisi dapat juga disebut sebagai mitos pengukuhan, sedangkan  penolakan  tradisi  sebagai  mitos  pemberontakan. Kedua hal  tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang wajib hadir dalam penulisan teks kesastraan,  sesuai dengan hakikat kesastraan itu yang selalu berada dalam ketegangan  antara  konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan.
Sebuah teks kesastraan yang dihasilkan dengan kerja yang demikian dapat dipandang sebagai karya  yang baru. Pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, dan horison harapannya sendiri, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain tersebut, yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu,  gagasan, tentulah masih dapat dikenali (Pradopo,  1987:  228).
Usaha pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan antara teks-teks tersebut. Dalam penulisan teks  kesastraan,  orang membutuhkan  konvensi, aturan, namun hal itu  sekaligus akan disimpanginya. Levin bahkan mengatakan bahwa pengakuan konvensi dalam sejarah bertepatan dengan  penolakannya. Penulisan sebuah teks kesastraan tidak mungkin  tunduk seratus  persen  pada  konvensi.
Pengarang  yang  notabene  memiliki daya kreativitas tinggi menciptakan yang baru, yang asli. Namun, pembaharuan yang  ekstrem dengan menolak semua konvensi akan berakibat karya  yang dihasilkankurang dapat dipahami dan tidak komunikatif. Penyimpangan memang perlu dilakukan namun ia tentunya masih dalam batas-batas  tertentu, masih ada unsur konvensi di dalamnya, sehingga masih ada celah yang dapat dimanfaatkan pembaca yang memang telah berada dalam konvensi dan tradisi tertentu.
Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan  makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya yang lain. masalah intertekstual lebih  dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana  kita memperoleh makna  sebuah  karya  secara  penuh  dalam  kontrasnya  dengan  karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi.
Didalam puisi “sendiri” dan puisi “alone” memiliki bentuk-bentuk dan hubungan yang sama. Misalnya pemilihan tema, isi, dan gagasan.. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu dan isi dalam karya-karyanya lebih lengkap dan maknanya lebih menonjol sehingga memunculkan daya tarik pembaca.


C.    Biografi Pengarang

1.      Biografi Edgar Allan Poe
Edgar Allan Poe (lahir di Boston, MassachusettsAmerika Serikat19 Januari 1809 – meninggal di Baltimore, MarylandAmerika Serikat7 Oktober 1849 pada umur 40 tahun) adalah penyaircerpenis, editor, kritikus, dan salah satu pemimpin Gerakan RomantikAmerika. Dikenal karena karya-karya macabre-nya, Poe merupakan salah satu praktisi awal penulisan cerita pendek di Amerika dan perintis karya fiksi detektif dan kriminal. Ia juga mendapat pengakuan atas kontribusinya pada genre cerita fiksi ilmiah. Poe meninggal pada usia 40 tahun karena sebab-sebab yang kurang jelas, terutama diduga karena alkohol, obat bius, kolera, rabies, dan hal-hal lain.
Beliau dilahirkan dengan nama Edgar Poe di Boston, Massachusets; beliau menjadi yatim piatu segera setelah ibunya meninggal dalam usia muda setelah ayahnya meninggalkan mereka. Poe kemudian diambil oleh John dan Frances Allan di Richmond, Virginia, tapi mereka tidak pernah secara resmi mengadopsinya. Dia terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Virginia selama satu semester dan tidak melanjutkan karena masalah biaya. Sesudah mendaftar dalam angkatan darat dan gagal sebagai perwira kadet, Poe meninggalkan keluarga Allan. Awal karirnya dimulai dengan sederhana, dengan koleksi cerpen anonim, Tamerlane and Other Poems (1827), disebut hanya dengan 'seorang Boston'.


2.      Biografi Boniex Noerwega
M.Boniex Norwega adalah seorang vokalis dari band For Revenge. Band ini mengusung genre post-hardcore/ Emo.  Dia juga seorang jurnalis,.Teknik vocalnya yang sudah dikenal sejak kecil. Dia sering memenangi kejuaraan vokal di tempat tinggalnya.
Teknik vocal yang semakin matang ini ditemukan oleh Abie yang diam-diam mengagumi Boniex. Entah bagaimana senangnya Abie saat Boniex setuju untuk bergabung dengan For Revenge. Kepiawaian Boniex dalam membuat puisi dan akhirnya di jadikan lagu ini sudah tidak diragukan lagi. Dia saat ini sedang studi di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bandung. UNPAD, Jurusan Jurnalistik Fikom.
Sekarang, Boniex telah menjelma menjadi seorang front man yang tak tergantikan di For Revenge.Awal mula terbentuk band ini adalah pada bulan April 2006 dengan mengusung genre post hardcore/modern rock/Emo sejak pertama terbentuk sampai dengan sekarang telah silih berganti personil. Nama FOR REVENGE kala itu bermakna akan pelampiasan amarah atas setiap masalah yg terjadi di tiap kehidupan masing-masing personil, sehingga sampai sekarang pun telah menjadikan banyak inspirasi dari lagu-lagu mereka. FOR REVENGE juga sempat di riview beberapa Stasiun TV Lokal Bandung di antaranya PJTV dalam acara LOKAL LEBEL, dan juga STV dalam acara Ziggy Wiggy, dan interview dengan koran Pikiran Rakyat.
FOR REVENGE telah lama malang melintang di kancah panggung PENSI dan GIGS music indie sekitar Bandung, Panggung Jakarta, Bogor, Serang, Pandegelang, Jogjakarta, dan Surabaya juga pernah dijajaki mereka dalam acara STONED COLLEGE TOUR yg diadakan oleh radio streaming swasta Jakarta bersama LAST CHILD, THE TREES AND THE WILD, dan HIDDEN MESSAGE. Band yang mengusung genre post hardcore/emo bernama For Revenge ini, mengajari kita bahwa mengapresiasi negara sendiri dapat dimulai dari hal yang kecil.


D.    Kesimpulan
Dalam pembahasan ini teks dan konteks yang akan dianalisis adalah karya sastra puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega , di mana pada perbandingannya kedua karya sastra itu memiliki persamaan yakni penggunaan bentuk akulirik pada analisis secara struktural yang sebelumnya telah dibahas. Di dalam kedua puisi tersebut mempunyai bentuk kesamaan yang saliung brerhubungan. Misalnya, tema yang sama,isi, dan maknanya pun juga sama.
Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih, sehingag dapat membandingkan makna dari dua teks tersebut. Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan  makna karya yang bersangkutan, jadi pengarang pun harus dapat memahami isi dan maknakarya-karyanya.


DAFTAR PUSTAKA
Guntur, Tarigan Henry, 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: PN.Angkasa
Jalil, Danie Abdul.1985. Teori dan Periodesasi Puisi Indonesia. Bandung: PN. Angkasa
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung Pustaka Jaya

»»  READMORE...

TUGAS Tengah Semester Sastra Banding


TINJAUAN STRUKTURAL TERHADAP PUISI “SENDIRI” KARYA M. BONIEX NURWEGA DAN PUISI “ALONE” KARYA EDGAR ALLAN POE

Sebuah Kajian Sastra Bandingan



Diajukan Sebagai Tugas Tengah Semester
Mata Kuliah Sastra Banding







1.      Dian Sukma Raharja       A310110107

2.      Ima Yustisia Reshi           A310110115

KELAS C








PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013



A.    Puisi Utuh

1.      Puisi Indonesia
SENDIRI
Ku coba tersenyum dalam tidurku
Tak peduli apapun yang terjadi
Karena harapan, asa, semua kan lebih baik
Saat ku terbangun
Adakah tanya telah terjawab?
Adakah tawa telah menjawab?
Sendiri menuju sunyi
Hingga yang tersisa hanya aku dan bahagia
Ku buka mata dia telah tiba
Membawa pesan di kedua tangannya
Mengajak berlari, menyusuri, jauh ke tempat terindah
Dan tak lagi terbangun
Sendiri menuju sunyi
Hingga yang tersisa hanya aku dan bahagia
Tak pernah beranjak, tak pernah beranjak

M. Boniex Nurwega 

2.      Puisi Barat/LirikLagu Barat
Alone
From childhood's hour I have not been
As others were; I have not seen
As others saw; I could not bring
My passions from a common spring.

From the same source I have not taken
My sorrow; I could not awaken
My heart to joy at the same tone;
And all I loved, I loved alone.

Then- in my childhood, in the dawn
Of a most stormy life- was drawn
From every depth of good and ill
The mystery which binds me still:

From the torrent, or the fountain,
From the red cliff of the mountain,
From the sun that round me rolled
In its autumn tint of gold
.

From the lightning in the sky
As it passed me flying by,
From the thunder and the storm,
And the cloud that took the form
(When the rest of Heaven was blue)
Of a demon in my view. 
Edgar Allan Poe


ALONE

Dari jam milik masa kanak dimana aku belum ada
Seperti yang lain: aku belum melihat
Seperti yang orang-orang saksikan; aku tak mampu membawa
kehendak hasratku dari musim semi yang datar ini

Dari  ujung hulu yang sama belum juga aku ambil
Kesedihanku; aku sungguh  tidak mampu membangun
hatiku agar bergembira pada  lirih  bunyi yang sama;
Sebab  dari seluruh yang aku cintai, aku begitu mencintai kesendirian

Kemudian dalam  masa kanakku, di sebuah fajar
Lewat  hidup yang maha membadai— sudah tergambar
Setiap dasar kedalaman dari yang sehat dan yang sakit
Rahasia dimana terus menerus aku terjepit.

Dari seluruh aliran air yang mengucur ataupun yang memancur
Dari jurang-jurang diantara rongga pegunungan
Dari matahari yang rutin mengitari aku  untuk menggulirkan  
aroma cahaya  musim gugurnya yang kekuningan

Dari  kilatan-kilatan di langit
Yang seolah mengajak aku terbang
Dari lenguh guruh maupun  pangkal badai
Dari payung  mendung yang kepadaku nyaris sampai
(ketika surga jadi teramat biru)
Iblis  bermukim di sekujur  pandanganku.
Edgar Allan Poe












B.     Pembahasan
Metode pembahasan yang dipergunakan adalah metode analisis, yaitu cara-cara mengkaji atau menganalisis unsur struktural  puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega  yang dijadikan objek pembahasan untuk mengetahui diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorika, bait dan baris, nilai budaya, persajakan, emosi, ide, serta pengalaman jiwa yang dipergunakan oleh pengarangnya. Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama menemukan persamaan di antara kedua puisi itu, kedua membandingkan bahasa puisi seperti: diksi, citraan, kiasan; ketiga membandingkan bentuk puisi: bait dan baris, nilai bunyi, persajakan; keempat membandingkan isi puisi: narasi, emosi, dan ide.
1.      Persamaan Kedua Puisi
            Membandingkan dua puisi perlulah mengetahui terlebih dahulu persamaan apa saja yang terdapat dalam kedua puisi ini. Persamaan itu berasal dari tema yang diangkat dan penggunaan akulirik.
Persamaan kedua puisi diatas adalah:
Persamaan dari judul puisi tersebut  yang  pertama “alone” karya dari Edgar Allan Poe memiliki arti yang sama dengan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega 
Kedua puisi tersebut mengangkat tema yang sama yaitu tenntang kesendirian
2.      Perbandingkan Bahasa Puisi
            Perbandingan bahasa puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni diksi, citraan dan kiasan. Berikut ini adalah pembahasan mengenai perbandingan bahasa puisi pada kedua puisi tersebut.
a.       Diksi
Persoalan pemilihan kata merupakan masalah yang sungguh-sungguh esensial untuk melukiskan dengan sejelas-jelasnya wujud dan perincian materi. Diksi sendiri berarti pemilihan kata, yaitu pemilihan kata yang digunakan penyair untuk mencari kata yang tepat dan sesuai dengan bentuk puisi dan tema yang dikandungnya, sehingga menghasilkan jiwa penyair secara tepat, setidak-tidaknya mendekati kebenaran.
Pemilihan kata dari puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe sudah bagus dan sesuai dengan tema yang diangkat,  dan kata yang dipilih beragam sehingga membuat puisi Nampak indah dan mudah dipaham. Pemilihan kata dari puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega sudah cukup baik, meskipun pemilihan katanya kurang beragam tetapi puisi tersebut mampu di pahami oleh pembaca.

b.      Citraan
Citraan atau imagi (imageri) adalah gambaran angan yang timbul setelah seseorang membaca karya sastra dalam hal ini puisi. Imageri dapat kita pakai sebagai hal untuk memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan nantinya akan menjelmakan gambaran nyata.
Citraan yang digunakan dalam puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe adalah citraan pendengaran, dibuktikan dengan “ lirih  bunyi yang sama “. Citraan penglihatan, dibuktikan dengan ”sudah tergambar Setiap dasar kedalaman “dan “Iblis  bermukim di sekujur  pandanganku”.Citraan penciuman, dibuktikan dengan “aroma cahaya  musim gugurnya “.
Citraan yang digunakan dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega adalah citraan pendengaran, dibuktikan dengan “Adakah tawa telah menjawab?”.Citraan penglihatan, dibuktikan dengan “Ku buka mata dia telah tiba”.
Dari kedua puisi tersebut, puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe menggunakan citraan yang lebih banyak dari pada puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega. 

c.       Bahasa Kias
Bahasa kias atau gaya bahasa adalah suatu alat untuk melukiskan, menggambarkan, menegaskan inspirasi atau ide dalam bentuk bahasa dengan gaya yang mempesona (Jalil, 1985:31).  Dalam puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe menggunakan gaya bahasa Hiperbola. Hiperbola adalah kiasan yang menyatakan sesuatu secara berlebihan, ini dibuktikan dalam “aroma cahaya  musim gugurnya yang kekuningan”, “Dari payung  mendung yang kepadaku nyaris sampai” dan  Iblis  bermukim di sekujur  pandanganku”.
            Dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega menggunakan gaya bahasa hiperbola,ini dibuktikan dengan “Sendiri menuju sunyi, Hingga yang tersisa hanya aku dan bahagia” dan “Mengajak berlari, menyusuri, jauh ke tempat terindah”.
            Dari kedua puisi tersebut menggunakan gaya bahasa hiperbola.



3.      PerbandinganBentukPuisi
            Perbandingan bentuk puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni bait dan baris, nilai bunyi, persajakan. Berikut ini adalah pembahasan mengenai perbandingan bahasa puisi pada kedua puisi tersebut:
a.       Bait dan baris
Dalam puisi “alone” karya  Edgar Allan Poe terdiri 5 bait dan 22 baris. Dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega terdiri dari 6 bait dan 15 baris. Dari kedua puisi tersebut puisi “alone” memiliki bait yang lebih sedikit daripada puisi “sendiri” tetapi mempunyai baris yang lebih banyak.
b.      Nilai bunyi
Nilai bunyi erat hubungannya dengan ritme dan rima. Tarigan (1985: 37-38), membagi nilai bunyi menjadi dua macam yakni euphony dan cacophony. Euphony adalah perulangan bunyi atau rima yang cerah, ringan, yang menunjukkan kegembiraan serta keceriaan dalam dunia puisi. Biasanya bunyi-bunyi i, e, dan a merupakan bunyi keceriaan. Cacophony adalah perulangan bunyi-bunyi yang berat menekan, menyeramkan, mengerikan seolah-olah seperti suara desau atau suara burung hantu. Biasanya bunyi-bunyi seperti ini diwakili oleh vokal-vokal o, u, e, atau diftong au.
Di dalam isi kedua puisi tersebut terdapat perulangan bunyi atau rima yang berbeda. Dalam puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe terdapat rima atau perulangan bunyi a,io,u,e yang berarti sebuah keceriaan dan juga kesedihan sesuai dengan tema puisi tersebut. Dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega terdapat rima atau perulangan bunyi a, i, u yang berarti keceriaan tetapi lebih menekankan dalam kesedihan sesuai dengan tema puisi tersebut yang mengisahkan tentang kesendiriannya. Dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega

c.       Persajakan
Persajakan ada dua macam, yaitu persajakan berdasarkan tempat dan persajakan susunan. Berdasarkan tempat  masih dibagi lagi, yaitu persajakan awal dan persajakan akhir. Persajakan awal, yaitu apabila perulangan bunyi terdapat pada tiap-tiap awal perkataan. Persajakan akhir apabila perulangan itu dijumpai pada akhir setiap kata dalam satu baris. Berdasarkan susunannya persajakan masih dibagi lagi, yaitu persajakan berangkai, berulang dan berpeluk. Persajakan berangkai apabila persamaan bunyi aa, bb, cc dan seterusnya. Persajakan berulang  apabila persamaan bunyinya abac, cdce. Persajakan berpeluk apabila persamaan bunyinya abba, cddc (Tarigan, 1985:35--36). Dalam puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe persajakannya adalah  aabb, aaaa, ccbb, bbac, ddccaa. Dalam puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega persajakannya adalah abba, cc, bc, ccca, bc, c . Dari kedua puisi tersebut persajakan puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe lebih bervariatif dibandingkan dengan puisi “sendiri” karya M. Boniex Nurwega.
4.      Perbandingan Isi Puisi
            Perbandingan isi puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni narasi, emosi, dan ide. Bagian isi puisi berupa narasi menjelaskan atau menceritakan isi puisi. Bagian isi puisi berupa emosi artinya menyatakan emosi apa yang dirasakan penyair ketika menuliskan puisi tersebut. Bagian isi puisi berupa ide artinya menyebutkan ide yang dikemukakan dalam puisi tersebut.
Perbandingan kedua puisi tersebut dilihat dari segi narasi adalah puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe dan “sendiri” karya M. Boniex Nurwega menggunakan bahasa yang berbeda, tetapi mempunyai makna dan isi yang sama yaitu tentang kesendirian.
Perbandingan dari segi emosi adalah dari kedua puisi tersebut puisi  “sendiri” karya M. Boniex Nurwega lebih menonjolkan emosinya dari pada puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe. Sehingga puisi  karya M. Boniex Nurwega lebih menarik untuk dibaca karena emosi dari puisi tersebut sudah tersampaikan kepada para penbacanya.
Dilihat dari segi ide puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe memiliki ide yang lebih komplek, dan mumpunyai kosa kata yang lebih banyak dan menarik. Sedangkan  tersebut puisi  “sendiri” karya M. Boniex Nurwega mempunyai ide yang simple namun tetap dalam maksud dari puisi tersebut , bahasa yang digunakan juga sering dipakai oleh para pembaca sehingga lebih mudah memahami dari puisi tersebut.














C.     Simpulan

Dari membandingkan puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe dan puisi  “sendiri” karya M. Boniex Nurwega dapat disimpulkan bahwa sebuah karya sastra mempunyai persamaan dengan karya sastra yang lainnya, dalam hal ini puisi barat dan puisi Indonesia. Banyak persamaan dan perbedaan dari segi judul puisi itu sendiri, tema yang diangkat, citraaan, bahasa kias, bait dan baris, nilai bunyi sampai persajakan.  puisi  alone” karya  Edgar Allan Poe lebih banyak bermain dengan bahasa kias dan citaaan yang banyak sedangkan puisi  “sendiri” karya M. Boniex Nurwega lebih menekankan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh para pembaca.

























DAFTAR RUJUKAN

Guntur, Tarigan Henry, 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: PN.Angkasa
Jalil, Danie Abdul.1985. Teori dan Periodesasi Puisi Indonesia. Bandung: PN. Angkasa
»»  READMORE...